Literasi Digital Collipujie di SD Centre Mawang: Tanamkan Etika Lingkungan Sejak Dini di Tengah Ancaman Karhutla

Literasi Digital Collipujie di SD Centre Mawang: Tanamkan Etika Lingkungan Sejak Dini di Tengah Ancaman Karhutla

GOWA — Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu pencemaran udara serta mengancam keseimbangan ekosistem, Collipujie (Corong Literasi, Pusat Kajian & Edukasi) terus mendorong penguatan kesadaran ekologis di kalangan generasi muda melalui kegiatan literasi digital.Kali ini, kegiatan tersebut terselenggara di SD Centre Mawang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, dengan memperkenalkan kepada peserta didik sekolah dasar berbagai ancaman kerusakan lingkungan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, pencemaran udara, hingga dampaknya terhadap kehidupan manusia dan keberlangsungan ekosistem.

Melalui media visual dan pemutaran tayangan edukatif, para siswa diajak memahami bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, melainkan konsekuensi dari perilaku manusia yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan yang terbakar, udara yang tercemar, serta rusaknya habitat satwa merupakan rangkaian persoalan yang dampaknya dapat meluas hingga mengancam kesehatan dan masa depan generasi berikutnya.

Isu karhutla menjadi relevan untuk diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini. Asap kebakaran tidak mengenal batas administratif; dampaknya dapat menjalar melintasi wilayah, mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, dan memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan manusia dengan alam ketika lingkungan tidak dijaga secara bertanggung jawab.

Ketua Umum Collipujie Andi afdhal yang turut menginisiasi gerakan ini,mengapresiasi keterbukaan pihak SD Centre Mawang dalam mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis bukan hanya dalam mentransmisikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis peserta didik terhadap lingkungan hidup.

“Kesadaran menjaga lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak perlu memahami bahwa alam bukan sekadar objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati, melainkan ruang kehidupan yang harus dirawat bersama. Kami mengapresiasi keterbukaan pihak sekolah untuk berkolaborasi mengenalkan etika lingkungan kepada generasi muda,” demikian penekanan Ketua Umum Collipujie.

Bagi Collipujie, literasi digital tidak semestinya berhenti pada kemampuan mengakses dan memahami informasi. Teknologi juga harus menjadi jembatan untuk membangun kepekaan sosial, keberanian berpikir kritis, dan tanggung jawab terhadap persoalan nyata di sekitar peserta didik.

Berita Lainnya