GOWA, MAKASSAR, MAROS – Perkumpulan Corong Literasi, Pusat Kajian dan Edukasi (Collipujie) terus mengintensifkan gerakan edukasi lingkungan melalui kegiatan sosialisasi berbasis literasi digital di sejumlah sekolah. Kegiatan ini diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis peserta didik sekaligus memperkenalkan pentingnya menjaga keberlangsungan lingkungan hidup sejak usia dini.
Dikemas melalui pendekatan literasi digital yang edukatif dan interaktif, para siswa diperkenalkan pada keragaman hayati (biodiversity) yang hidup di sekitar mereka, mulai dari tumbuhan, satwa, ekosistem hutan, hingga berbagai unsur alam yang menopang kehidupan manusia.Bagi Collipujie, pengenalan terhadap keragaman hayati bukan sekadar menambah pengetahuan siswa tentang alam, melainkan bagian dari upaya menanamkan nilai, sikap, dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Sebab, kepedulian terhadap alam tidak cukup hanya diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi harus tumbuh menjadi kesadaran yang melekat dalam diri setiap generasi.
Ditemui di sela-sela kegiatan sosialisasi tersebut, Ketua Umum Collipujie, Andi Afdhal, menekankan bahwa pemeliharaan lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, termasuk institusi pendidikan.”Momentumnya saya rasa tepat. Di tengah kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berbagai persoalan lingkungan lainnya, kami merasa perlu menanamkan nilai environmental ethics atau etika lingkungan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Menurut Andi Afdhal, pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada sebatas imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan sekolah. Lebih jauh, peserta didik perlu diperkenalkan pada hubungan timbal balik antara manusia dan alam, termasuk memahami bahwa keberlangsungan kehidupan manusia sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem.
Ia menilai, membangun kesadaran ekologis sejak bangku sekolah merupakan investasi peradaban jangka panjang. Generasi muda perlu dibentuk bukan hanya menjadi manusia yang cakap secara intelektual dan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan moral terhadap keberlangsungan alam.Dalam kesempatan tersebut, Collipujie juga menyampaikan apresiasi kepada para guru dan kepala sekolah di Kabupaten Gowa, Kota Makassar, dan Kabupaten Maros yang telah memberikan ruang serta dukungan terhadap pelaksanaan program literasi digital lingkungan tersebut.Dukungan lingkungan sekolah, menurut Collipujie, menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pendidikan ekologis. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga harus menjadi tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab terhadap alam.
Lebih lanjut, Andi Afdhal berharap kesadaran ekologis dapat ditempatkan sebagai salah satu prasyarat utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan. Hal tersebut penting untuk membentuk generasi baru yang memiliki orientasi keberlanjutan, bukan semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi melalui eksploitasi dan ekstraksi sumber daya alam.”Kita ingin melahirkan generasi yang memahami bahwa alam bukan sekadar objek ekonomi yang bisa terus dieksploitasi. Ada kehidupan, keseimbangan, dan masa depan yang harus dijaga di dalamnya. Pendidikan harus mengambil peran untuk membentuk manusia yang memiliki tanggung jawab ekologis,” tegasnya.
Melalui gerakan ini, Collipujie ingin menegaskan bahwa literasi digital semestinya tidak hanya melahirkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang mampu menggunakan pengetahuan untuk membaca persoalan zaman, memahami ancaman terhadap lingkungan, serta mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.Sebab, menjaga lingkungan bukan semata-mata urusan aktivis lingkungan atau pemerintah. Ia merupakan tanggung jawab moral seluruh manusia. Dan kesadaran itu perlu ditanamkan sejak ruang-ruang kelas, sebelum generasi mendatang hanya mewarisi kerusakan yang gagal kita cegah hari ini.





