KAREBATUJU.COM



Foto Lanskap: Perahu jolloro menelusuri Sungai Pute di bawah lindungan menara karst raksasa Rammang-Rammang.

Suara hening menyelimuti Dermaga Salenrang saat perahu kayu bermotor jolloro mulai bergerak melintasi lorong Sungai Pute. Di kanan dan kiri, rumpun pohon nipah bersanding dengan benteng batu kapur berwarna abu-abu kehijauan yang menjulang tegak hingga ketinggian 300 meter. Kicau burung Malkoha Sulawesi terdengar bersahut-sahutan di celah-celah vegetasi yang menempel di dinding tebing.

Inilah Rammang-Rammang—sebuah dusun yang terletak di dalam ekosistem karst Maros-Pangkep seluas 43.750 hektar, lanskap karst terluas kedua di dunia setelah Shilin di Yunnan, Tiongkok.

                  SPESIFIKASI GEOPARK MAROS-PANGKEP
┌───────────────────────────────────┬──────────────────────────────────┐
│ Luas Total Area                   │ 4.587 km² (Darat & Kepulauan)    │
├───────────────────────────────────┼──────────────────────────────────┤
│ Usia Geologi Formasi Tonasa       │ 40 – 15 Juta Tahun Lalu (Eosen)  │
├───────────────────────────────────┼──────────────────────────────────┤
│ Jumlah Situs Arkeologi Gua        │ 500+ Gua Prasejarah              │
├───────────────────────────────────┼──────────────────────────────────┤
│ Umur Lukisan Gua Tertua (Leang    │ ~45.500 Tahun (Gua Babi Sulawesi)│
│ Tedongnge)                        │                                  │
└───────────────────────────────────┴──────────────────────────────────┘

Jejak Peradaban Tertua Manusia di Leang-Leang

Gua-gua di kawasan ini menyimpan rahasia penting evolusi estetika manusia purba. Di dalam Leang Timpuseng dan Leang Tedongnge, peneliti arkeologi internasional menemukan cat cap tangan (stencils) dan lukisan babi kutil Sulawesi (Babirusa) menggunakan pigmen oker merah.

Penanggalan sampel Uranium-series mengonfirmasi bahwa stensil tangan di tempat ini dibuat setidaknya 45.500 tahun yang lalu—menjadikannya salah satu bukti seni figuratif tertua di muka bumi, jauh lebih tua dari lukisan gua di Chauvet, Prancis.

Kemenangan Warga Atas Pertambangan Semen

Keasrian Rammang-Rammang yang dinikmati hari ini adalah hasil perjuangan panjang masyarakat lokal. Pada rentang tahun 2008–2013, kawasan ini sempat diteror oleh konsesi izin tambang batu kapur untuk industri semen.

“Dulu kami diimingi uang ganti rugi tanah. Tapi kami sadar, jika tebing ini dikeruk pabrik semen, air tanah kami habis, sungai kering, dan anak cucu kami cuma dapat debu,” kenang Darwis (44), tokoh pemuda lokal yang mengorganisasi penolakan tambang dan merintis koperasi pariwisata berbasis komunitas.

Kini, warga Dusun Rammang-Rammang mengelola penuh akses transportasi perahu, penyewaan homestay, dan pemandu wisata, membuktikan bahwa konservasi alam mampu memberikan kesejahteraan ekonomi yang lebih berkelanjutan daripada industri ekstraktif.

Feature Lainnya