KAREBATUJU.COM



Menjelajahi racikan kuah kental beraroma kaya yang menjadi manifestasi kehangatan, sejarah perdagangan, dan karakter kuat Sulawesi Selatan.

Asap tipis membumbung tinggi dari bibir Gentong Tanah (kuali tanah liat tradisional) di sudut kedai Coto yang riuh. Saat sendok kayu besar mengaduk kuah berwarna kecokelatan yang pekat, aroma melimpah dari ketumbar sangrai, jintan, serai, lengkuas, dan kemiri langsung menyeruak, menggugah selera siapa saja yang melangkah masuk.

Coto Makassar bukan sekadar hidangan pemuas rasa lapar di kala sore atau malam hari. Ia adalah produk sejarah panjang dari posisi strategis Makassar sebagai pelabuhan megah dan pusat perdagangan rempah-rempah dunia pada abad ke-16 hingga 17.

Anatomi Rasa dan Etika Menyantap

Penyajian Coto Makassar menyimpan keteraturan dan simbolik budaya yang unik:

  • Daging dan Jeroan pilihan: Dipotong dadu secara presisi, mencerminkan pemanfaatan bahan makanan secara bijak dan menghargai setiap bagian dari hewan kurban/ternak.
  • Kuah Kacang dan Rempah: Penggunaan air cucian beras (basa tajang) dan kacang tanah sangrai tumbuk memberikan tekstur kuah kental berkarakter gurih-gurih pedas.
  • Pendamping Ketupat (Ketupat/Burasa): Dibungkus daun kelapa berbentuk jajaran genjang yang khas, dipotong tepat saat akan dimasukkan ke dalam mangkuk kuah.

“Menikmati semangkuk Coto Makassar adalah ritual merayakan keberanian rasa. Tambahan perasan jeruk nipis dan sambal tauco yang pedas-asam adalah representasi karakter masyarakat Bugis-Makassar: jujur, tegas, dan berani.”

Melalui semangkuk Coto yang hangat, kita dapat meresapi bagaimana tradisi kuliner Sulawesi Selatan mampu bertahan melintasi jaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Ia adalah kehangatan penyambut tamu, perekat silaturahmi, dan identitas rasa yang akan selalu dirindukan oleh siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di tanah Daeng.