KAREBATUJU.COM



Jauh sebelum raungan buldozer dan ekskavator membelah bukit-bukit, sebuah epos tua dari tanah Bugis telah menggemakan peringatan yang melampaui zamannya.

Dari lekuk kisah Sawerigading hingga wajah pembangunan hari ini, alam dalam kosmologi Bugis tidak pernah diposisikan sebagai objek mati yang bebas dijarah. Ia adalah subjek. Sesuatu yang bernapas, yang harus diperlakukan dengan tata krama dan penghormatan.

Kisah itu tersimpan rapi dalam La Galigo. Bukan bercerita tentang gedung pencakar langit atau proyek strategis nasional, melainkan tentang sebuah pohon raksasa bernama Welenreng.

Epik Welenreng: Lebih dari Sekadar Kayu

Dalam fragmen Ritumpanna Wélenrénngé, dikisahkan Sawerigading membutuhkan kayu terbaik untuk membangun armada kapal yang akan membawanya berlayar menuju Tiongkok. Pohon Welenreng, yang menjulang menyentuh langit dan menopang berbagai kehidupan di sekitarnya, menjadi pilihan utamanya.

Namun, yang membuat episode ini menjadi objek penelitian khusus tentang etika lingkungan bukanlah seberapa besar ukuran pohon tersebut, melainkan cara manusia memperlakukan alam sebelum mengambil sesuatu darinya.

Budayawan Bone, Andi Yusman Batara Aji, melihat kisah ini sebagai cermin jernih tentang bagaimana manusia Bugis memandang posisi dirinya di tengah semesta.

“Dalam La Galigo, alam tidak ditempatkan sebagai benda mati yang bebas diperlakukan sesuka hati. Alam memiliki posisi dalam keseimbangan kehidupan. Karena itu, ketika manusia hendak mengambil sesuatu dari alam, ada penghormatan, ada tata cara, dan ada kesadaran bahwa tindakan manusia akan membawa konsekuensi,” papar Andi Yusman.

Paradoks Pembangunan Modern: Mengukur yang Didapat, Lupa yang Hilang

Hari ini, manusia memiliki senjata yang jauh lebih mematikan daripada kapak Sawerigading.

Hanya dalam hitungan hari, ekskavator mampu merobek bentang alam dalam skala yang tak pernah dibayangkan oleh para leluhur. Hutan purba, kawasan resapan, hingga aliran sungai dapat disulap menjadi kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur dengan sangat cepat.

Pembangunan itu sering kali dibalut dengan diksi yang terdengar tak terbantahkan: investasi, pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, modernisasi. Tentu, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk sejahtera. Persoalannya baru muncul ketika kalkulator pembangunan hanya pandai menghitung apa yang akan diperoleh, namun gagap menghitung apa yang akan hilang.

Berapa banyak sumber mata air yang mati? Berapa habitat yang terpotong? Berapa keluarga yang tercerabut dari ruang hidupnya? Dan yang paling mengerikan: berapa besar biaya kerusakan yang tagihannya diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir?

Di titik buta inilah, etika lingkungan (environmental ethics) harus mengambil peran. Ia hadir bukan sekadar menanyakan apakah sebuah proyek sudah mengantongi stempel legalitas hukum, tetapi mencecar lebih dalam: Apakah tindakan ini benar secara moral terhadap alam?

Meminta Izin pada Semesta

Dalam pembacaan terhadap naskah La Galigo, episode Welenreng secara gamblang memperlihatkan adanya proses ritual dan “diplomasi ekologis” sebelum kapak pertama diayunkan. Kajian Sitti Aaisyah menggarisbawahi bahwa penghormatan terhadap entitas alam adalah fondasi relasi manusia dan lingkungannya.

Bagi Andi Yusman, pesan ini adalah tamparan keras bagi model pembangunan ekstraktif hari ini.

“Yang penting dari kisah Welenreng bukan hanya bahwa pohon itu akhirnya ditebang. Yang penting adalah kesadaran sebelum menebang. Ada proses, pertimbangan, dan penghormatan. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak semestinya memandang alam sebagai objek yang bebas dieksploitasi hanya karena ia memiliki kemampuan untuk melakukannya,” tegasnya.

Jika nilai luhur ini diterjemahkan ke dalam kebijakan modern, maknanya sangat fundamental:

  • Sebelum hutan dibuka, bertanyalah pada daya dukung ekosistem.
  • Sebelum sungai dibendung atau dialihkan, bertanyalah pada masyarakat adat yang denyut nadinya bergantung pada air tersebut.
  • Sebelum proyek dinyatakan sukses, bertanyalah tentang warisan apa yang tersisa di baliknya.

Kita Bukan Penguasa Tunggal

Ada arogansi dalam cara berpikir manusia modern yang kerap menempatkan dirinya sebagai pusat semesta (antroposentrisme). Alam baru dianggap bernilai jika ia menghasilkan uang. Hutan dihargai karena harga meter kubik kayunya, tanah karena nilai jual per meternya, dan sungai karena potensi megawatt energinya.

Padahal, jika alam hanya dihargai dengan nominal rupiah, maka ekosistem yang tidak memiliki “nilai ekonomis langsung” akan dengan mudah digusur dan dianggap tak berguna.

Kosmologi La Galigo menolak arogansi itu. Ritumpanna Wélenrénngé menyimpulkan bahwa manusia, alam, dan tatanan kosmos adalah jaring yang tak terpisahkan.

“Dalam pandangan budaya Bugis, manusia tidak seharusnya merasa menjadi penguasa tunggal atas alam. Penggunaan alam harus disertai tanggung jawab mutlak. Sebab ketika keseimbangan alam terganggu, manusia jualah yang pertama kali akan menelan akibatnya,” tambah Andi Yusman.

Ketika Welenreng tumbang, ia bukan sekadar satu batang kayu yang jatuh. Ia adalah hilangnya rumah bagi ribuan burung, hilangnya akar raksasa pengikat tanah, dan bergesernya sebuah ekosistem. Kita sering menghitung untung dari kayu yang ditebang, tetapi lupa menghitung harga dari kehilangan sebuah hutan.

Warisan yang Sesungguhnya

Pembangunan bukanlah musuh lingkungan. Modernitas tidak harus dilawankan dengan tradisi. Justru sebaliknya, teknologi mutakhir membutuhkan kompas etika dari kearifan lokal agar kekuatan raksasa yang kita miliki tidak berubah menjadi mesin penghancur.

“Kalau La Galigo hanya kita tempatkan sebagai cerita kuno, kita kehilangan salah satu fungsi penting kebudayaan. Nilai di dalamnya harus menjadi bahan refleksi menghadapi persoalan hari ini,” pesan Andi Yusman.

Di zaman ketika umat manusia telah membuktikan kemampuannya untuk mengeksploitasi nyaris setiap jengkal bumi, persoalan utamanya bukan lagi tentang apakah kita mampu, melainkan: Apakah kita cukup bijaksana untuk mengetahui kapan harus berhenti?

Pada akhirnya, etika lingkungan bukan sekadar urusan menyelamatkan pohon. Ini adalah urusan tentang akan menjadi manusia seperti apa kita kelak. Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang membangun menara-menara tinggi di atas tanah yang mati? Ataukah sebagai peradaban yang mampu melangkah maju tanpa memutus akar kehidupannya sendiri?

Pembangunan yang beradab adalah pembangunan yang membuat manusia maju tanpa membuat alam kehilangan haknya untuk bernapas. Dan jika Welenreng adalah metafora dari masa lalu, maka pertanyaan yang menampar kita hari ini sangatlah sederhana:

Ketika pohon terakhir telah rata dengan tanah, sungai terakhir pekat oleh racun, dan tanah terakhir menolak menumbuhkan benih—apa yang sebenarnya sedang kita bangun?

Feature Lainnya