KAREBATUJU.COM



Selama lebih dari satu dekade, konsep Kawasan Perkotaan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar) didengungkan sebagai solusi ajaib. Kehadirannya dijanjikan untuk mengurai kemacetan kronis di Makassar sekaligus meratakan pertumbuhan ekonomi ke wilayah penyangga. Namun, jika kita jujur melihat realitas hari ini, Mamminasata masih sebatas macan kertas—sebuah dokumen perencanaan mega-konstruksi yang tertinggal jauh oleh laju pertumbuhan populasi dan kendaraan.

Wacana pembangunan Jalan Tol Mamminasata yang dirancang menghubungkan Maros langsung ke Takalar tanpa membebani lalu lintas jalan arteri kota adalah langkah strategis. Namun, publik tidak membutuhkan sekadar janji pembentangan aspal baru. Yang dibutuhkan adalah pemahaman bahwa jalan tol ini adalah nadi logistik utama Sulawesi Selatan.

Sumbatan Logistik dan Beban Ekonomi

  • Sumbatan Jalur: Truk-truk kontainer bertonase besar dari Pelabuhan Soekarno-Hatta maupun Makassar New Port (MNP) saat ini masih berbagi jalan dengan kendaraan pribadi di jalan protokol seperti Jalan AP Pettarani, Urip Sumoharjo, hingga Perintis Kemerdekaan.
  • Kerugian Waktu: Penumpukan kendaraan ini menghasilkan biaya logistik yang membengkak dan membuang jutaan jam produktif warga Maros dan Gowa setiap harinya.

Pembangunan infrastruktur tidak boleh lagi didorong oleh ego sektoral antar-pemerintah daerah. Makassar membutuhkan hinterland yang efisien untuk memasok bahan pangan dan tenaga kerja, sementara Maros, Gowa, dan Takalar membutuhkan akses pasar yang cepat di pusat kota dan pelabuhan.

Mamminasata adalah satu kesatuan tata ruang organik. Kegagalan mengelola transportasi di Gowa akan berdampak langsung pada kemacetan di Makassar. Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Sulsel bersama pemerintah kabupaten/kota duduk bersama mengesampingkan kalkulasi politik jangka pendek demi mengaktifkan kembali raksasa ekonomi ini.