SIRI’ NA PESSE

SIRI’ NA PESSE

Filsafat tentang Martabat dan Kemanusiaan

oleh : A.Afdhal Dp

Dalam kebudayaan Bugis, siri’ na pesse bukan sekadar dua kata yang diwariskan dari masa lalu. Ia adalah cara memandang manusia: bagaimana seseorang menjaga martabat dirinya, sekaligus bagaimana ia merasakan luka yang dialami orang lain.

Siri’ adalah kesadaran tentang harga diri. Tetapi siri’ yang sejati bukanlah kesombongan. Ia adalah keberanian untuk berkata bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui oleh manusia—batas kehormatan, kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab.

Sementara pesse adalah kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain seolah-olah penderitaan itu menyentuh diri sendiri. Karena itu, siri’ tanpa pesse dapat berubah menjadi egoisme. Sebaliknya, pesse tanpa siri’ dapat kehilangan keberanian untuk melawan ketidakadilan.

Di antara keduanya terdapat manusia yang utuh.

Siri’ membuat manusia berdiri.
Pesse membuat manusia tidak berjalan sendirian.

Siri’ bertanya:

“Apakah aku masih menjadi manusia yang bermartabat?”

Pesse bertanya:

“Apakah orang lain masih diperlakukan sebagai manusia?”

Dari sinilah siri’ na pesse memperoleh kedalaman filosofisnya.

Ia tidak hanya berbicara tentang kehormatan pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial.

Seseorang yang memiliki siri’ tidak akan dengan mudah menjual prinsipnya demi kekuasaan. Ia tidak menukar kebenaran dengan keuntungan. Ia tidak membiarkan dirinya dipermalukan oleh kebohongan yang ia lakukan sendiri.

Namun seseorang yang memiliki pesse juga tidak akan merasa cukup dengan menjaga kehormatan dirinya. Ia akan bertanya tentang mereka yang tertindas, mereka yang tidak memiliki suara, mereka yang kehilangan hak, bahkan mereka yang tidak mampu membela dirinya sendiri.

Sebab kehormatan yang hanya menyelamatkan diri sendiri belum tentu merupakan kehormatan.

Dalam pengertian yang lebih dalam, siri’ adalah martabat yang bersemayam di dalam diri, sedangkan pesse adalah martabat yang kita akui pada diri orang lain.

Maka keduanya sesungguhnya bertemu pada satu prinsip universal:

manusia tidak boleh direndahkan.

Di zaman ketika kekuasaan sering diukur dari seberapa banyak orang dapat ditundukkan, siri’ na pesse justru menawarkan ukuran yang berbeda.

Kekuasaan yang bermartabat bukanlah kekuasaan yang membuat orang takut, melainkan kekuasaan yang mampu menahan dirinya sendiri.

Kebesaran bukanlah ketika seseorang mampu membungkam suara orang lain, tetapi ketika ia memiliki kekuatan untuk mendengar suara yang paling lemah.

Dan keberanian bukanlah keberanian untuk membalas penghinaan, melainkan keberanian untuk tetap benar ketika membalas menjadi pilihan yang paling mudah.

Karena itu, siri’ tidak seharusnya dipahami sebagai alasan untuk mempertahankan ego, dendam, atau kekerasan.

Siri’ yang kehilangan pesse dapat berubah menjadi amarah.
Pesse yang kehilangan siri’ dapat berubah menjadi kepasrahan.

Tetapi ketika keduanya bertemu, lahirlah keberanian yang berperikemanusiaan.

Mungkin inilah salah satu pesan paling tua sekaligus paling relevan dari kebijaksanaan Bugis:

jagalah kehormatanmu, tetapi jangan kehilangan rasa terhadap penderitaan orang lain.

Sebab pada akhirnya manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Kita hidup di antara manusia lain, di dalam masyarakat, di atas tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan mewarisi dunia yang sama.

Maka ukuran terakhir dari kehormatan seseorang bukan hanya bagaimana ia mempertahankan dirinya ketika dihina.

Tetapi juga:

seberapa jauh ia mampu menjaga agar manusia lain tidak kehilangan martabatnya.

Di situlah siri’ menjadi cahaya bagi diri.

Dan pesse menjadi cahaya bagi sesama.

Siri’ na pesse—
martabat yang dijaga,
penderitaan yang dirasakan,
dan kemanusiaan yang diperjuangkan.

Kegiatan Lainnya