
Oleh : A.Afdhal.Dp.S,E.
Karebatuju.com-Dalam ingatan peradaban Bugis, ada sebuah konsep yang terus hidup melampaui zaman: To Manurung.Ia hadir dalam berbagai kisah asal-usul kerajaan Bugis sebagai sosok yang “turun” dari dunia atas.
Namun, membaca To Manurung semata-mata sebagai cerita tentang seseorang yang turun dari langit barangkali terlalu sederhana. Di balik kisah tersebut tersimpan sebuah pertanyaan filosofis yang jauh lebih dalam,dari mana kekuasaan memperoleh legitimasi?
Masyarakat Bugis sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang universal. Bahwa kekuasaan tidak semestinya lahir hanya dari kekuatan, keturunan, kekayaan, atau kemampuan menaklukkan orang lain. Kekuasaan harus memiliki alasan moral mengapa ia layak dipercaya.
Karena itu, To Manurung dapat dibaca sebagai simbol hadirnya tatanan di tengah kekacauan.Sebelum adanya pemerintahan, manusia hidup dalam berbagai kepentingan yang saling berhadapan. Kehadiran To Manurung dalam mitologi kemudian menjadi titik simbolik lahirnya kepemimpinan, aturan, dan keteraturan sosial.
Yang “turun” sesungguhnya bukan hanya seorang manusia.Yang turun adalah legitimasi.Dan bersama legitimasi itu, turun pula sebuah tanggung jawab.Di sinilah filsafat To Manurung menjadi menarik. Seorang pemimpin memperoleh kedudukan yang tinggi bukan agar ia bebas melakukan apa saja, melainkan karena masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Maka kekuasaan dalam pandangan ini tidak semata-mata vertikal—dari penguasa kepada rakyat. Ia juga bergerak ke arah sebaliknya: dari kepercayaan rakyat kepada kewajiban moral penguasa.Raja bukan sekadar orang yang berada di atas.Ia berada di atas agar mampu melihat lebih luas, melindungi lebih banyak, dan memikul tanggung jawab lebih besar.Dalam khazanah nilai Bugis, kepemimpinan semacam itu tidak dapat dipisahkan dari siri’, pesse, lempu, getteng, dan ada tongeng.
Kekuasaan yang kehilangan kejujuran akan kehilangan kehormatannya. Kekuasaan yang kehilangan kepedulian akan kehilangan kemanusiaannya. Dan kekuasaan yang kehilangan kebenaran akan kehilangan legitimasi moralnya.
Karena itu, To Manurung tidak harus dipahami sebagai manusia pertama dalam sejarah Bugis. Ia lebih tepat dipahami sebagai simbol lahirnya sebuah peradaban politik.Manusia mungkin telah ada sebelum To Manurung.Tetapi melalui simbol To Manurung, masyarakat Bugis seakan ingin mengatakan bahwa sebuah peradaban baru benar-benar dimulai ketika manusia menemukan cara untuk mengikat kekuasaan dengan tanggung jawab.
Di titik inilah mitologi berubah menjadi filsafat.Dan filsafat itu masih relevan hingga hari ini.Sebab pertanyaan paling penting dalam politik modern sebenarnya tetap sama dengan pertanyaan yang tersimpan dalam kisah To Manurung:Ketika seseorang memperoleh kekuasaan, untuk siapa sebenarnya kekuasaan itu dijalankan?
Jika kekuasaan hanya menjadi alat untuk memperbesar diri, maka ia telah kehilangan makna peradabannya.Tetapi jika kekuasaan dipahami sebagai amanah untuk menjaga manusia, kebenaran, dan keseimbangan kehidupan bersama, maka di sanalah roh To Manurung menemukan relevansinya kembali.Sebab pada akhirnya, yang membuat seorang pemimpin tinggi bukanlah kursinya, melainkan tanggung jawab yang sanggup ia pikul.Dan mungkin itulah pesan paling sunyi dari To Manurung:«Kekuasaan boleh datang dari atas, tetapi kehormatan seorang pemimpin hanya lahir dari bagaimana ia memperlakukan manusia di bawahnya.»

