Narasi: Akkalarapangeng — Jiwa Ketulusan yang Mendahului altruisme barat

Narasi: Akkalarapangeng — Jiwa Ketulusan yang Mendahului altruisme barat

Sebelum dunia Barat berbicara tentang altruism,sikap mendahulukan kepentingan orang lain di atas diri sendiri , orang Bugis telah lama menghayati nilai itu dalam satu kata yang sarat makna yaitu akkalarapangeng.

Akkalarapangeng bukan sekadar memberi atau berkorban. Ia adalah cerminan dari kesadaran batin bahwa hidup manusia tidak mungkin berdiri sendiri. Dalam pandangan leluhur Bugis, seseorang baru menjadi “tau” (manusia sejati) ketika ia mampu mappakalabbi tau lainna .memuliakan orang lain sebagaimana ia ingin dimuliakan.Konsep ini tumbuh dari pandangan kosmologis Bugis bahwa kehidupan harus dijaga dalam keseimbangan antara diri, sesama, dan semesta.

Menolong bukanlah tindakan heroik, melainkan bagian dari kodrat manusia yang sadar akan siri’ dan pesse’ atau rasa malu dan empati yang menjaga hubungan sosial tetap manusiawi.

Dalam akkalarapangeng, seseorang tidak mencari pujian atau imbalan. Tindakan baik dilakukan karena nilai kebaikan itu sendiri. Sebab dalam keheningan nurani Bugis, memberi adalah bentuk penghormatan pada kehidupan.Orang yang akkalarapang tidak hanya membantu, tetapi juga mappatettong , menegakkan kembali kemanusiaan yang mungkin telah goyah dalam diri orang lain.

Leluhur Bugis mengajarkan bahwa pesse’ (belas kasih) adalah sumber keberadaban. Jika seseorang kehilangan pesse’, maka ia kehilangan bagian terdalam dari kemanusiaannya.Dari situlah lahir tatanan sosial yang kokoh, tempat setiap orang merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap sesamanya.

Berabad-abad sebelum Auguste Comte merumuskan istilah altruism, masyarakat Bugis telah menjadikannya bagian dari etika hidup sehari-hari.Dalam akkalarapangeng, kebaikan bukanlah teori melainkan napas kehidupan.Dan di sanalah, jiwa Bugis menunjukkan keagungannya.menolong bukan karena harus, tetapi karena tak sanggup membiarkan penderitaan tetap berdiri di depan mata.

Kegiatan Lainnya