WATAMPONE, KAREBATUJU — Di tengah gempuran arus modernisasi dan dominasi budaya populer global, upaya pelestarian identitas lokal terus digaungkan di Tanah Arung Palakka. Lembaga Collipujie, organisasi independen yang berfokus pada penguatan pendidikan dan kebudayaan daerah, resmi membuka kegiatan “Workshop Literasi Lontara & Digitalisasi Aksara Bugis” pada Rabu (14/08) di Aula Kompleks Museum La Pawawoi, Watampone.
Kegiatan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh lebih dari 120 peserta terdaftar yang terdiri atas pelajar SMA/SMK, mahasiswa, guru bahasa daerah, serta perwakilan komunitas pemuda dari 27 kecamatan di Kabupaten Bone.
Menghubungkan Manuskrip Kuno dengan Teknologi Modern
Program ini dirancang tidak hanya sekadar mengajarkan tata cara membaca dan menulis aksara Lontara secara konvensional, melainkan juga mengintegrasikannya ke dalam ekosistem digital modern. Para peserta dibimbing langsung oleh filolog lokal dan praktisi teknologi informasi untuk menginstal serta menggunakan keyboard beraksara Lontara pada perangkat komputer dan ponsel pintar (smartphone).
Ketua Pelaksana Kegiatan, Andi Muhammad Rahmat, S.Pd., menjelaskan bahwa nama Colliq Pujie sendiri diambil dari nama tokoh sastrawan perempuan Bugis abad ke-19, Retna Kencana Colliq Pujie, yang berjasa menyalin manuskrip agung I La Galigo.
“Lembaga Collipujie mengemban beban moral untuk meneruskan api semangat Colliq Pujie. Banyak anak muda Bone hari ini yang mahir bahasa asing, namun asing dengan aksara ibundanya sendiri. Melalui digitalisasi ini, kami ingin Lontara hadir di ruang percakapan digital anak muda, bukan hanya tersimpan di dalam lemari museum yang berdebu,” tegas Andi Rahmat dalam pidato pembukaannya.
Materi Pelatihan dan Rencana Tindak Lanjut
Selama workshop, peserta mendapatkan modul pembelajaran yang mencakup:
- Sejarah & Filologi Dasar: Pengenalan variasi naskah tua Bugis dan struktur Surek.
- Kaidah Penulisan: Teknik menulis indah (kaligrafi) Lontara menggunakan media kertas tradisional dan bambu.
- Typing & Font Creation: Praktik mengoperasikan Unicode Lontara untuk kebutuhan pembuatan konten di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan situs web.
Sebagai tindak lanjut, Lembaga Collipujie akan membentuk Komunitas Muda Literasi Lontara di tiap kecamatan yang bertugas menjadi duta edukasi aksara daerah di lingkungan sekolah masing-masing.


