Ada sesuatu yang menarik dari sebuah buku yang sebenarnya hanyalah fiksi.Namanya Ghost Fleet.Ia bukan kitab suci. Bukan laporan intelijen. Bukan pula ramalan yang mempunyai kepastian ilmiah. Ia adalah novel tentang perang masa depan—sebuah simulasi imajinatif mengenai bagaimana persaingan kekuatan besar dapat berubah menjadi perang terbuka, termasuk perang siber, teknologi, ekonomi, dan militer.
Namun justru karena ia fiksi, kita mungkin perlu membacanya dengan cara yang berbeda.Fiksi tidak selalu mengatakan apa yang akan terjadi. Kadang ia hanya memperlihatkan apa yang mungkin terjadi jika manusia gagal mencegahnya.Dan di sinilah persoalan Prabowo menjadi menarik secara filosofis.
Pada 2017, Prabowo membawa Ghost Fleet ke Universitas Indonesia. Ia menyebut bahwa dalam skenario novel tersebut, pada 2030 Republik Indonesia digambarkan sudah tidak ada. Publik kemudian lebih banyak memperdebatkan satu kalimat:“Indonesia bubar 2030.”Padahal mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting:Bagaimana jika Prabowo tidak sedang meramalkan Indonesia akan bubar, tetapi sedang membayangkan apa yang harus dilakukan agar Indonesia tidak pernah sampai pada keadaan itu?
Itulah perbedaan antara ramalan dan peringatan.Ramalan membuat manusia menunggu.Peringatan membuat manusia bersiap.2030 sebagai angka, atau sebagai cermin?Barangkali kesalahan terbesar kita adalah menganggap angka 2030 sebagai sebuah tanggal kiamat.Padahal 2030 dapat dibaca sebagai sebuah cermin strategis.Sebuah negara tidak selalu runtuh karena satu perang besar.
Negara bisa melemah secara perlahan disebabkan ekonominya tergantung,energinya rapuh,pangannya tidak mandiri,industrinya tertinggal,teknologinya dikuasai pihak lain,sumber daya alamnya dieksploitasi tanpa nilai tambah,institusinya kehilangan kepercayaan,dan rakyatnya mulai kehilangan keyakinan bahwa negara bekerja untuk mereka.
Pada titik tertentu, negara secara formal masih berdiri.Benderanya masih berkibar.Konstitusinya masih ada.Presidennya masih dipilih.Tetapi kedaulatannya perlahan kosong dari dalam.Mungkin inilah makna paling filosofis dari Ghost Fleet.Bukan tentang bagaimana Indonesia “bubar”.Tetapi tentang bagaimana sebuah negara dapat tetap bernama Indonesia namun kehilangan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Mungkinkah cara berpikir itu ikut membentuk kebijakan Prabowo?Di sini kita harus berhati-hati.Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa setiap kebijakan Prabowo hari ini merupakan konsekuensi langsung dari Ghost Fleet.Tetapi sangat masuk akal untuk membaca pengalaman tersebut sebagai salah satu bagian dari kerangka berpikir strategis seorang pemimpin yang melihat dunia melalui perspektif ancaman, ketahanan, kedaulatan, dan persaingan kekuatan besar.Terlebih lagi, ketika ia menunjukkan Ghost Fleet di UI, ia tidak hanya membawa novel itu. Ia juga membawa Destined for War karya Graham Allison dan War by Other Means karya Robert Blackwill dan Jennifer Harris. Artinya, konteks pemikirannya lebih luas daripada sekadar cerita “Indonesia bubar”.
Ada satu benang merah yaitu dunia sedang memasuki kompetisi kekuatan besar, dan negara yang tidak memiliki daya tahan akan menjadi objek dari permainan negara lain.Maka kebijakan mengenai pertahanan, hilirisasi, ketahanan energi, pangan, industri strategis, teknologi, hingga diplomasi ekonomi dapat dibaca dalam satu perspektif
Bagaimana membuat Indonesia cukup kuat sehingga skenario terburuk tidak pernah menjadi kenyataan?Ini bukan berarti semua kebijakan tersebut pasti benar.Tetapi mungkin kita bisa memahami logika di baliknya.Ironi terbesar: sebuah novel fiksi bisa melahirkan politik yang sangat nyata.Di sinilah filsafat politik menemukan wilayahnya.
Sebuah cerita yang tidak benar secara faktual dapat menghasilkan konsekuensi yang benar-benar nyata.Manusia tidak selalu bertindak berdasarkan fakta.Manusia bertindak berdasarkan apa yang ia yakini sebagai kemungkinan.
Seorang jenderal tidak perlu percaya bahwa perang pasti terjadi untuk mempersiapkan perang.Seorang dokter tidak perlu yakin pasien akan meninggal untuk memberikan tindakan pencegahan.Dan seorang presiden tidak perlu percaya Indonesia pasti bubar pada 2030 untuk membangun negara seolah-olah keruntuhan itu mungkin terjadi apabila negara tidak diperkuat.
Maka barangkali Ghost Fleet bukan penting karena prediksinya.Ia penting karena ketakutan yang ditimbulkannya dapat menjadi energi politik.Tetapi ada bahaya lainDi sinilah kita harus memberikan kritik filosofis.Sebuah negara tidak boleh dibangun hanya berdasarkan ketakutan.Jika seluruh kebijakan negara lahir dari ketakutan terhadap kehancuran, maka negara bisa berubah menjadi negara yang selalu merasa terancam.Akibatnya, segala sesuatu dapat dibenarkan atas nama keamanan.Sentralisasi dapat disebut stabilitas.Pengendalian dapat disebut ketertiban.Pengorbanan rakyat dapat disebut kepentingan nasional.Kritik dapat dianggap sebagai gangguan.Padahal negara yang kuat bukan negara yang tidak memiliki kritik.Negara yang kuat adalah negara yang mampu menerima kritik tanpa runtuh.
Karena itu, ada paradoks besar Untuk mencegah Indonesia menjadi negara gagal, kita tidak boleh membangun negara yang gagal mendengar rakyatnya.Dan mungkin inilah pelajaran terdalam dari 2030Sekarang kita telah memasuki tahun 2026.Tahun yang dahulu berada di masa depan ketika Prabowo berbicara tentang Ghost Fleet kini sudah berada di depan mata.2030 tinggal beberapa tahun lagi.Tetapi Indonesia masih ada.Dan justru karena itu, kita tidak perlu sibuk membuktikan apakah novel itu salah atau benar.
Pertanyaan yang lebih dewasa adalah,Apa yang harus dilakukan agar pada 2030 Indonesia bukan sekadar masih ada, tetapi menjadi lebih berdaulat?Sebab keberadaan sebuah negara bukan hanya soal wilayah dan pemerintahan.Negara adalah kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri.Jika Indonesia mampu menguasai teknologi, menjaga pangan dan energi, memperkuat industri, meningkatkan kualitas manusia, memberantas korupsi, memperkuat institusi hukum, menjaga persatuan, dan mempertahankan kemandirian politiknya, maka Ghost Fleet tidak lagi menjadi ramalan.Ia berubah menjadi peringatan yang berhasil dikalahkan oleh sejarah.
Dan mungkin di situlah kemenangan seorang pemimpin terhadap sebuah buku.Bukan dengan membuktikan bahwa buku itu salah, tetapi dengan membuat skenario terburuk yang ditulis buku itu tidak pernah terjadi.Namun sejarah kelak akan mengajukan pertanyaan yang lebih berat kepada Prabowo:Apakah ketakutan terhadap Indonesia yang bubar akan berhasil melahirkan Indonesia yang lebih kuat—atau justru menghasilkan Indonesia yang terlalu takut untuk menjadi demokratis, terbuka, dan berani?Sebab pada akhirnya, ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukanlah ramalan tentang kehancurannya.Ancaman terbesar adalah ketika bangsa itu berhenti membayangkan masa depan yang lebih baik.Dan mungkin itulah renungan yang seharusnya kita ambil dari Ghost Fleet:2030 bukan tanggal Indonesia akan mati.2030 adalah pertanyaan.
**Apakah Indonesia akan menjadi objek sejarah—atau tetap menjadi subjek yang menulis sejarahnya sendiri?**





