Kota Makassar selalu memegang status historis sebagai hub atau pintu gerbang utama Indonesia Timur. Namun, di era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy) saat ini, status “pintu gerbang” tidak boleh lagi diukur hanya dari seberapa banyak kontainer yang lalu lalang di pelabuhan atau jumlah penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin.
Indikator baru keberhasilan Makassar adalah seberapa besar peran generasi mudanya dalam menggerakkan ekonomi digital.
Menjamurnya kafe, co-working space, dan komunitas kreatif di Makassar adalah bukti betapa melimpahnya energi anak muda Sulsel. Sayangnya, sebagian besar dari potensi ini masih berhenti pada level konsumen teknologi—sekadar pengguna media sosial—belum menjadi creator atau owner bisnis berbasis teknologi yang scalable.
Tiga Pilar Mendorong Makassar Sebagai Hub Digital:
- Inkubasi Bisnis Berkelanjutan: Pemkot dan Pemprov harus menyediakan ruang inkubasi start-up yang tidak berhenti pada lomba pitching, melainkan memberi akses pada pendanaan (venture capital).
- Digitasi UMKM Lokal: Mengakselerasi UMKM kuliner dan kriya khas Sulsel dari sekadar berjualan secara offline menjadi pemain e-commerce lintas negara.
- Infrastruktur Internet Merata: Menjamin akses internet berkecepatan tinggi tidak hanya terpusat di Jalan AP Pettarani atau kawasan Pantai Losari, melainkan menjangkau hingga wilayah pulau terluar.
Anak-anak muda Makassar memiliki keberanian (siri’) dan daya juang yang tinggi secara kultural. Jika potensi karakter ini dipadukan dengan keterampilan coding, digital marketing, dan analisis data, bukan hal yang mustahil Makassar akan lahir sebagai “Silicon Valley” yang menggerakkan rantai pasok digital untuk seluruh kawasan Indonesia Timur.