KAREBATUJU.COM



MARE, KAREBATUJU — Komitmen Lembaga Collipujie dalam pemerataan akses pendidikan karakter tak sekadar berpusat di kawasan perkotaan. Pada Senin (05/10), tim fasilitator Lembaga Collipujie meluncurkan program “Kemah Budaya Sekolah Desa” yang dipusatkan di Desa Batu Gading, Kecamatan Mare—salah satu wilayah yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Watampone.

Program pionir ini dirancang khusus untuk menjangkau sekolah-sekolah di pelosok desa yang selama ini minim mendapatkan akses kegiatan ekstra-kurikuler berbasis kebudayaan.

Inkubasi Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge

Selama tiga hari pelaksanaan kemah budaya, sebanyak 80 siswa SMP/MTs dari berbagai desa sekitar mendapatkan pembinaan intensif mengenai tiga pilar utama karakter masyarakat Bugis:

  • Sipakatau: Saling menghargai dan memanusiakan sesama manusia tanpa memandang status sosial.
  • Sipakalebbi: Saling memuliakan dan memberikan kebaikan serta apresiasi satu sama lain.
  • Sipakainge: Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Selain pendalaman karakter, relawan pengajar dari Lembaga Collipujie memberikan pelatihan praktis seperti pembuatan kerajinan anyaman daun lontar, mendongeng kisah keteladanan rakyat Bugis (Pappaseng), serta dasar-dasar olah vokal untuk lagu daerah.

Kepala Sekolah SMPN 3 Mare, Drs. H. Syamsuddin, M.M., menyambut hangat inisiatif Lembaga Collipujie yang terjun langsung ke desa mereka.

“Anak-anak di desa sering kali merasa minoritas dibanding anak kota. Kedatangan Lembaga Collipujie membawa angin segar. Mereka belajar bahwa budaya desa mereka adalah kekayaan luar biasa. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal seperti inilah yang betul-betul dibutuhkan siswa kami,” ujar Syamsuddin.

Lembaga Collipujie menargetkan program Kemah Budaya Sekolah Desa ini dapat menjangkau minimal 10 kecamatan terluar di Kabupaten Bone hingga akhir periode program kerja tahunan.

Kegiatan Lainnya