
Oleh : Andi Afdhal Dp.
Jauh sebelum manusia merumuskan hukum dan kitab-kitab etika, evolusi telah memperlihatkan satu prinsip yang membuat kehidupan bersama dapat bertahan: Altruisme—yaitu kecenderungan untuk tidak hanya memikirkan keselamatan diri, tetapi juga keberlangsungan orang lain.
Dalam pengertian ini, moralitas bukan sekadar hasil dari aturan yang dibuat manusia, melainkan tumbuh dari kebutuhan paling mendasar untuk hidup bersama.
Dalam khazanah Bugis, semangat tersebut dapat dibaca melalui konsep akkalarapangeng atau kemampuan menggunakan akal, pertimbangan, dan kesadaran untuk menempatkan diri secara tepat di tengah kehidupan.
Akal bukan hanya alat untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi juga kemampuan menyadari bahwa setiap tindakan memiliki akibat bagi manusia lain dan bagi lingkungan tempat kita berpijak.Karena itu, manusia sesungguhnya tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Setiap tingkah laku adalah pertanggungjawaban.
Apa yang kita lakukan kepada orang lain meninggalkan jejak pada kehidupan sosial,apa yang kita lakukan terhadap alam meninggalkan jejak pada semesta.Di sinilah akkalarapangeng menemukan makna moralnya: menjadi manusia berarti mampu mempertimbangkan akibat dari keberadaan kita terhadap keberadaan yang lain.
Kebebasan tidak berarti bebas berbuat sesuka hati, melainkan kesanggupan memilih tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.Maka moralitas tertinggi bukanlah sekadar bertanya, “Apa yang boleh saya lakukan?” tetapi lebih jauh: “Apa akibat perbuatan saya bagi orang lain dan bagi dunia yang saya tinggali?”Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang hidup di dalam semesta. Manusia adalah bagian dari semesta yang tindakannya ikut menentukan apakah kehidupan menjadi lebih baik atau justru lebih buruk.


